Deteksi Penyakit TBC, Pengobatan, dan Cara Pencegahannya

By | 07/08/2019

Deteksi Penyakit TBC, Pengobatan, dan Cara Pencegahannya

Mendeteksi penyakit TBC (tuberkulosis) dapat dilakukan melalui informasi keluhan penyakit yang dimiliki oleh pasien. Kemudian biasanya dokter akan melakukan pemeriksaan fisik, terutama mengamati suara napas pasien dengan menggunakan stetoskop. Bila diduga gejala yang ditimbulkan pasien disebabkan oleh TBC kelenjar, umumnya dokter juga akan memeriksa ada tidaknya pembesaran kelenjar.

bagi pasien yang sudah diduga mengalami TBC, dokter akan kembali melakukan pemeriksaan BTA (bakteri tahan asam). Pemeriksaan ini dilakukan pada dahak, darah, tinja, urine, dan sumsum tulang. Tujuan dari pemeriksaan dahak ini untuk memastikan apakah TBC yang diderita pasien berasal dari dari paru-paru, ataukah organ lainnya.

Selain dari pemeriksaan BTA, dokter juga dapat melakukan serangkaian pemeriksaan lain sebagai pendukung diagnosis, meliputi:

  • Foto Rontgen
  • CT scan
  • Tes kulit Mantoux atau Tuberculin skin test
  • Tes Darah IGRA (interferon gamma release assay).

Pengobatan Tuberkulosis TBC

Penyakit ini dapat disembuhkan dan jarang berakibat fatal jika penderita mengikuti saran dari dokter. Prinsip utama pengobatan TBC (tuberkulosis) adalah patuh untuk minum obat selama jangka waktu yang dianjurkan oleh dokter (minimal 6 bulan).

Apabila berhenti meminum obat sebelum waktu yang dianjurkan, penyakit TBC yang Anda derita berpotensi menjadi kebal terhadap obat-obat yang biasa diberikan. Jika hal ini terjadi, TBC menjadi lebih berbahaya dan sulit diobati.

Obat yang diminum merupakan kombinasi dari isoniazid, rifampicin, pyrazinamide dan ethambutol. Sama seperti semua obat, obat TBC juga memiliki efek samping, antara lain:

  • Warna urine menjadi kemerahan
  • Menurunnya efektivitas pil KB, KB suntik, atau susuk
  • Gangguan penglihatan
  • Gangguan saraf
  • Gangguan fungsi hati

Untuk penderita yang sudah kebal dengan kombinasi obat tersebut, akan menjalani pengobatan dengan kombinasi obat yang lebih banyak dan lebih lama. Lama pengobatan dapat mencapai 18-24 bulan. Selama pengobatan, penderita TBC harus rutin menjalani pemeriksaan dahak untuk memantau keberhasilannya.

Pencegahan Tuberkulosis TBC (Tuberkulosis)

Salah satu langkah untuk mencegah TBC (tuberkulosis) adalah dengan menerima vaksin BCG (Bacillus Calmette-Guerin). Di Indonesia, vaksin ini termasuk dalam daftar imunisasi wajib dan diberikan sebelum bayi berusia 2 bulan. Bagi yang belum pernah menerima vaksin BCG, dianjurkan untuk melakukan vaksin bila terdapat salah satu anggota keluarga yang menderita TBC.

TBC juga dapat dicegah dengan cara yang sederhana, yaitu mengenakan masker saat berada di tempat ramai dan jika berinteraksi dengan penderita TBC, serta sering mencuci tangan.

Walaupun sudah menerima pengobatan, pada bulan-bulan awal pengobatan (biasanya 2 bulan), penderita TBC juga masih dapat menularkan penyakit. Jika Anda menderita TBC, langkah-langkah di bawah ini sangat berguna untuk mencegah penularan, terutama pada orang yang tinggal serumah dengan Anda:

  • Tutupi mulut saat bersin, batuk, dan tertawa, atau kenakan Apabila menggunakan tisu untuk menutup mulut, buanglah segera setelah digunakan.
  • Tidak membuang dahak atau meludah sembarangan.
  • Pastikan rumah memiliki sirkulasi udara yang baik, misalnya dengan sering membuka pintu dan jendela agar udara segar serta sinar matahari dapat masuk.
  • Jangan tidur sekamar dengan orang lain, sampai dokter menyatakan TBC yang Anda derita tidak lagi menular.