Diagnosa dan Penanganan Penderita Asam Urat

By | 08/08/2019

Diagnosa dan Penanganan Penderita Asam Urat

Melakukan diagnosa penyakit asam urat dapat dilakukan melalui beberapa cara, seperti menanyakan riwayat penyakit penderita, gejala-gejala yang muncul, serta melakukan tes fisik, terutama pada bagian sendi yang sakit. Hal ini diperlukan untuk memastikan apakah sakit yang diderita pasien disebabkan oleh penyakit asam urat atau bukan. Sebagai informasi pendukung, biasanya dokter juga akan melakukan pemeriksaan tambahan seperti:

  • Tes darah. Tes darah dilakukan untuk mengukur kadar asam urat dan kreatinin dalam darah. Seseorang dengan kadar asam urat dalam darah hingga 7 mg/dL, dinilai sudah menderita penyakit asam urat. Namun demikian, tes ini tidak selalu dapat memastikan penyakit asam urat. Beberapa orang diketahui memiliki kadar asam urat tinggi, namun tidak menderita penyakit asam urat. Sebaliknya, ada orang yang memiliki gejala dan tanda penyakit asam urat meski kadar asam urat dalam darah normal.
  • Tes urine 24 jam. Prosedur ini dilakukan dengan memeriksa kadar asam urat dalam urine yang dikeluarkan pasien selama 24 jam.
  • Tes cairan sendi. Prosedur ini mengambil cairan sinovial pada sendi yang sakit, untuk diperiksa di bawah mikroskop.
  • Pencitraan. Pemeriksaan foto Rontgen dapat dilakukan untuk mengetahui penyebab radang pada sendi. Sedangkan USG dapat mendeteksi kristal asam urat pada sendi dan tofi (benjolan).
  • Dual energy CT scan. Pemeriksaan ini dapat mendeteksi kristal asam urat di sendi meski tidak terjadi peradangan.
  • Biopsi sinovial. Prosedur ini mengambil sebagian kecil jaringan (membran sinovial) di sekitar sendi yang terasa sakit, untuk diperiksa di bawah mikroskop.

Pengobatan Penyakit Asam Urat

Jika pasien sudah terbukti mengalami sakit asam urat, penanganan yang dilakukan biasanya dengan cara memberikan obat-obatan. Pengobatan tersebut ditujukan untuk meringankan gejala asam urat dan mencegah agar penyakit kambuh kembali. Jenis obat yang biasanya diresepkan dokter untuk menangani penyakit asam urat adalah colchicine dan obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS). Pada pasien yang tidak bisa mengonsumsi kedua obat tersebut, dokter akan meresepkan kortikosteoid.

Pada pasien yang mengalami beberapa kali serangan asam urat dalam setahun, atau mengalami nyeri hebat akibat penyakit ini, dokter akan meresepkan obat lain untuk mencegah komplikasi. Jenis obat yang digunakan pada kasus di atas adalah allopurinol. Obat ini bekerja dengan menghambat produksi asam urat di tubuh. Jenis obat lain yang juga dapat diberikan adalah obat untuk meningkatkan pembuangan asam urat berlebih dari tubuh seperti probenecid.

Untuk mencegah serangan asam urat kembali terjadi, pasien akan disarankan untuk menghindari makanan berkadar purin tinggi, dan mengurangi minuman tinggi gula serta minuman beralkohol. Pasien juga akan dianjurkan untuk memenuhi asupan protein dengan mengonsumsi susu rendah lemak, serta rutin berolahraga untuk mencapai dan menjaga berat badan ideal.