Diagnosa Obesitas dan Cara Pengobatannya

By | 08/08/2019

Diagnosa Obesitas dan Cara Pengobatannya

Hanya dengan melakukan pemeriksaan fisik, sebenarya dokter sudah bisa memperkirakan bahwa seseorang menderita penyakit obesitas, normal, ataukah hanya memiliki kelebihan berat badan (overweight). Pemeriksaan fisik tersebut mencakup pengukuran tinggi badan, berat badang, suhu tubuh, detak jantung, serta tekanan darah. Sedangkan untuk memastikan belum terjadinya komplikasi atas penyakit obesitas, biasanya dokter juga melakukan pemeriksaan organ yang berisiko terkena dampak dari obesitas, seperti paru-paru, jantung, ataupun lambung.

Bahkan tanpa melalui dokter, seseorang dapat dengan mudah melakukan analisa terhadap penyakit obesitas dengan menggunakan BMI (Body Mass Index) atau IMT (Indeks Massa Tubuh). Kalian hanya memerlukan informasi berat badan beserta tinggi badan yang kalian miliki. Jika informasi tersebut sudah dimiliki, tinggal kalian masukkan melalui tabel perhitungan dibawah ini.

Keterangan:

Kondisi Nilai BMI / IMT
Berat Badan Dibawah Normal kurang dari 18.5
Normal 18.5 – 22.9
Berat Badan Berlebih (Cenderung Obesitas) 23 – 29.9
Obesitas lebih dari 30

Apabila kalian melakukan pemeriksaan obesitas melalui dokter, biasanya pemeriksaan tidak hanya dilakukan menggunakan BMI/IMT. Untuk mendukung hasil pemeriksaan, biasanya dokter akan menambahkan sejumlah pemeriksaan lainnya seperti:

  • Pengukuran ketebalan lipatan kulit untuk mengetahui ukuran lemak tubuh.
  • Perbandingan ukuran pinggang dan pinggul.
  • Pemindaian dengan USG, CT scan, atau MRI guna mengetahui kadar lemak dan distribusinya di dalam tubuh.

Di samping pengukuran dan pemindaian tersebut, dokter bisa melakukan tes penunjang untuk mengetahui adanya risiko penyakit yang terkait dengan obesitas. Tes tersebut dilakukan melalui tes darah. Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengetahui:

  • Kadar kolesterol
  • Gula darah
  • Fungsi ginjal
  • Hormon tiroid.

Selain tes darah, dokter juga dapat memeriksa kondisi jantung dengan melakukan elektrokardiografi. Berdasarkan serangkaian tes tersebut, dokter dapat menentukan berapa banyak berat badan yang perlu diturunkan, dan penyakit lain terkait obesitas yang dialami penderita.

Pengobatan Obesitas

Penanganan obesitas dapat dilakukan melalui program penurunan berat badan yang melibatkan dokter gizi, dokter endokrin, atau psikiater. Program tersebut memiliki target awal penurunan berat badan yang aman, atau sekitar 3-5 persen dari total berat badan. Dalam program ini, penderita disarankan mengubah pola makan dan pola aktivitas fisik. Kendati demikian, perubahan tersebut perlu disesuaikan dengan kondisi kesehatan secara keseluruhan, serta tingkat obesitas yang dialami penderita.

Program penurunan berat badan meliputi:

  • Perubahan pola makan. Perubahan ini bertujuan mengurangi asupan kalori dan menjalankan kebiasaan makan yang lebih sehat. Dalam mengurangi asupan kalori, penderita disarankan mengurangi asupan energi sebanyak 600 kalori setiap hari. Asupan kalori harian yang dianjurkan pada wanita adalah sebanyak 1400 kalori, sedangkan pada pria adalah 1900 kalori. Cara terbaik menjalankannya adalah dengan mengganti makanan atau minuman tinggi kalori dengan pilihan makanan yang mengandung banyak serat, seperti sayur dan buah, serta menghindari makanan dengan kadar garam dan gula yang tinggi, atau makanan atau minuman dengan tambahan pemanis buatan.
  • Peningkatan aktivitas fisik. Di samping penurunan asupan kalori, peningkatan aktivitas fisik yang membakar energi juga dapat mempertahankan penurunan berat badan yang aman. Selain itu, peningkatan aktivitas fisik juga dapat memberi banyak keuntungan dari segi kesehatan, seperti menurunkan risiko diabetes tipe 2. Peningkatan ini dilakukan dengan cara berolahraga secara teratur, setidaknya selama 150 menit tiap minggu, untuk mencegah penambahan berat badan dan mempertahankan penurunan berat badan yang aman. Guna menurunkan berat secara signifikan, maka disarankan berolahraga setidaknya selama 300 menit tiap minggu. Peningkatan ini sebaiknya dilakukan secara bertahap, disesuaikan dengan peningkatan kebugaran dan ketahanan fisik Jenis olahraga yang dapat dilakukan, antara lain jalan cepat, jogging, berlari, bersepeda, atau berenang. Selain berolahraga, peningkatan aktivitas fisik juga bisa diperoleh dengan melakukan aktivitas yang lebih membakar kalori dalam kegiatan sehari-hari. Contohnya adalah bila berpergian dengan jarak yang tidak terlalu jauh, lebih memilih berjalan dibanding naik kendaraan.
  • Perubahan perilaku. Upaya ini bisa dilakukan dengan mengikuti psikoterapi atau support group untuk mengubah pola pikir dan mengatasi masalah emosi atau perilaku yang terkait dengan konsumsi makanan.

Jika perubahan pola makan dan peningkatan aktivitas fisik belum berhasil menurunkan berat badan, dokter dapat membantu dengan meresepkan obat penurun berat badan. Namun, obat tersebut baru diberikan jika nilai IMT melebihi 30 atau penderita mengalami penyakit penyerta, seperti diabetes, tekanan darah tinggi, atau sleep apnea. Obat yang biasa diresepkan adalah orlistat dan liraglutide.

Sebelum memberikan obat, dokter akan mempertimbangkan riwayat medis dan efek samping yang dapat ditimbulkan. Selama mengonsumsi obat, dokter akan memantau dan mengawasi kondisi pasien.

Tindakan lain yang bisa dilakukan dokter untuk mengatasi penderita obesitas adalah operasi yang berfungsi untuk menurunkan berat badan atau dikenal sebagai operasi bariatrik. Operasi ini akan membuat perubahan dalam sistem pencernaan, sehingga membatasi asupan makanan, sehingga menurunkan penyerapan kalori. Operasi bariatrik baru dapat dilaksanakan jika penderita sudah menjalani metode penurunan berat badan namun tidak berhasil, serta mengalami obesitas ekstrim dengan nilai IMT di atas 40, atau nilai IMT di atas 35 dengan penyakit penyerta, misalnya hipertensi atau diabetes.

Operasi bariatrik yang dapat dilakukan meliputi:

  • Bypass lambung. Dalam operasi ini, dokter bedah akan membuat kantong kecil di atas lambung dan terhubung langsung dengan usus halus. Aliran makanan dan minuman akan masuk ke kantong tersebut untuk menuju usus halus, dan tidak melewati lambung.
  • Laparoscopic adjustable gastric banding. Dalam operasi ini, lambung akan diikat untuk menahan perluasan lambung.
  • Biliopancreatic diversion with duodenal switch. Dalam prosedur ini, sebagian lambung akan diangkat, dan ujung lambung akan dipotong serta langsung disambungkan dengan bagian akhir usus halus. Bagian usus halus yang terpotong akan disambungkan kembali agar empedu dan enzim pencernaan tetap mengalir.
  • Gastric sleeve. Dalam operasi ini, dokter bedah akan mengangkat sebagian lambung, sehingga membuat lambung menjadi lebih kecil untuk menyimpan makanan.

Seluruh program penurunan berat badan membutuhkan waktu dan komitmen yang kuat dari penderita agar dapat menyelesaikannya dengan baik. Selain itu, pemantauan secara teratur terhadap tujuan penurunan berat badan perlu dilakukan, baik oleh penderita maupun dokter dan keluarga, agar program ini dapat berjalan dengan stabil. Dengan demikian, risiko komplikasi penyakit yang terkait obesitas dapat berkurang.