Diagnosa, Pengobatan, dan Pencegahan Alzheimer

By | 07/09/2019

Diagnosa, Pengobatan, dan Pencegahan Alzheimer

Melakukan diagnosa alzheimer tidak mudah, karena alzheimer menyerang jaringan otak. Namun untuk mengetahui kemungkinan dari munculnya penyakit alzheimer, dokter biasanya akan mengajukan sejumlah pertanyaan seputar gejala yang dialami, penyakit yang diderita oleh anggota keluarga lain, obat yang dikonsumsi, serta gaya hidup.

Setelah mengajukan pertanyaan, dokter akan melakukan pemeriksaan saraf dan mental. Pemeriksaan dilakukan mencakup tes keseimbangan pasien, koordinasi tubuh, refleks, pendengaran, penglihatan, kekuatan otot, serta menilai daya ingat dan kemampuan berpikir penderita, yang kemudian akan dibandingkan dengan orang yang seumur dan setara tingkat pendidikannya.

Untuk memastikan ada-tidaknya penyebab dari gejala penyakit lain, dokter akan menyarankan penderita untuk melakukan pemeriksaan sebagai berikut:

  • Pemeriksaan darah. Pemeriksaan ini dilakukan untuk mengetahui apakah ada kondisi lain yang menyebabkan pasien mengalami penurunan daya ingat atau tampak kebingungan, misalnya kekurangan vitamin atau gangguan hormon tiroid, sifilis, HIV, dan radang otak.
  • Pemindaian otak. Pemeriksaan ini dilakukan untuk mendeteksi kelainan atau perubahan di dalam otak, dan memastikan penyebab dari gejala yang muncul. Metode pemindaian otak bisa dilakukan dengan CT scan atau MRI.
  • Pungsi lumbal. Pungsi lumbal dilakukan untuk mengambil cairan otak dan saraf tulang belakang, melalui celah di tulang belakang. Pungsi lumbal dilakukan untuk memeriksa apakah penderita mengalami infeksi otak.

Walaupun dokter sudah melakukan pemeriksaan, diagnosa juga bisa meleset. Karena mengetahui penyakit alzheimer tidak mudah. Jika ada cara paling akurat untuk menentukan ada tidaknya penyakit Alzheimer adalah dengan memeriksa jaringan otak, namun hanya bisa dilakukan melalui autopsi setelah penderita meninggal.

Pengobatan Penyakit Alzheimer

Cara pertama yang dilakukan adalah memberikan obat-obatan yang mampu meredakan gejala dengan cara meningkatkan kadar zat kimia otak. Jenis obat-obatan yang diresepkan dokter adalah rivastigmine, donepezil, dan memantine. Obat ini digunakan untuk menangani penyakit Alzheimer pada tahap awal hingga menengah. Memantine juga dapat diresepkan pada pederita Alzheimer dengan gejala yang sudah memasuki tahap akhir.

Selain pemberian obat-obatan, psikoterapi juga dapat dilakukan untuk menangani penyakit Alzheimer. Terapi ini terdiri dari:

  • Stimulasi kognitif, yang bertujuan untuk meningkatkan daya ingat, kemampuan berkomunikasi, dan kemampuan dalam memecahkan masalah.
  • Terapi relaksasi dan terapi perilaku kognitif, yang bertujuan untuk mengurangi halusinasi, delusi, kecemasan, atau depresi yang dialami oleh penderita.

Sampai saat ini, belum ada penanganan khusus yang terbukti efektif untuk menyembuhkan penyakit Alzheimer. Upaya penanganan yang dilakukan hanya bertujuan untuk meredakan gejala, memperlambat perkembangan penyakit, serta memampukan penderita untuk hidup semandiri mungkin.

Lancar Beraktivitas dengan Penyakit Alzheimer

Jika Anda mengalami penyakit Alzheimer atau memiliki keluarga yang menderita penyakit ini, tips di bawah ini bisa dilakukan agar aktivitas berjalan lancar.

  • Buat catatan mengenai hal-hal yang ingin dilakukan dan tempel catatan tersebut di pintu, kulkas, atau di mana pun yang mudah terlihat.
  • Pasang alarm pada jam/ponsel sebagai pengingat, atau beri tahu orang yang dipercaya untuk mengingatkan rencana kegiatan yang akan di
  • Simpan kontak kerabat, teman-teman, atau orang-orang tertentu di buku telepon dan di ponsel, serta simpan kunci di tempat yang mudah terlihat.
  • Atur tanggal secara tepat pada ponsel agar tidak lupa dengan hari, atau bila perlu, mulailah berlangganan surat kabar setiap hari.
  • Tempelkan label pada tiap wadah tertutup agar tidak lupa isinya, misalnya pada laci atau lemari makanan.
  • Pasang pegangan pada tangga atau kamar mandi untuk menghindari diri dari terjatuh saat berjalan.
  • Kurangi jumlah cermin karena dapat membuat penderita Alzheimer kebingungan atau bahkan ketakutan.
  • Atur letak perabotan rumah dengan baik agar tidak mengganggu dan membahayakan gerak penderita.

Pencegahan Penyakit Alzheimer

Umumnya, orang-orang yang pikiran dan fisiknya selalu aktif, serta mereka yang suka bersosialisasi, tidak akan mudah terkena penyakit Alzheimer. Oleh karena itu, seseorang yang berisiko terkena Alzheimer dianjurkan melakukan hal-hal menyenangkan yang dapat menstimulasi gerak tubuh dan pikiran.

Banyak cara bisa dilakukan, misalnya dengan bermain musik, melakukan permainan yang dapat menstimulasi otak (misalnya mengisi teka teki silang), menulis, membaca, belajar bahasa asing, mengikuti kegiatan sosial, dan berolahraga. Jalan santai di pagi atau sore hari, berenang, tenis, atau bulu tangkis adalah contoh-contoh olahraga yang dianjurkan.

Penyakit jantung sering dikaitkan dengan risiko penyakit Alzheimer. Jika seseorang berisiko tinggi terkena penyakit jantung, maka dirinya pun lebih rentan terkena penyakit Alzheimer. Karena itu, lakukanlah beberapa langkah pencegahan berikut ini agar jantung tetap sehat dan terhindar dari risiko penyakit Alzheimer.

  • Konsumsi makanan dengan gizi seimbang, serta memiliki kadar lemak dan kolesterol yang rendah. Selain itu, perbanyak konsumsi buah dan sayuran.
  • Berhenti merokok dan batasi konsumsi minuman beralkohol.
  • Jika menderita stroke, diabetes, hipertensi, atau kolesterol tinggi, konsumsi obat resep secara rutin dan jalani anjuran dokter dengan baik.
  • Jika mengalami kelebihan berat badan, turunkan berat badan dengan cara aman.
  • Periksakan tekanan darah, kadar kolesterol, dan gula darah secara rutin, agar gangguan tidak semakin parah.
  • Rutin berolahraga, minimal 2,5 jam dalam seminggu.