Diagnosa, Pengobatan, dan Pencegahan Hepatitis C

By | 10/08/2019

Diagnosa, Pengobatan, dan Pencegahan Hepatitis C

Diagnosa penyakit hepatitis C akan dilakukan melalui tes darah, mencakup:

Tes antibodi hepatitis C

Tes ini dilakukan untuk mendeteksi antibodi (kekebalan tubuh) yang dihasilkan tubuh untuk melawan virus. Bila positif, perlu dilakukan pemeriksaan lanjutan untuk menentukan apakah penyakit hepatitis C menjadi kronis atau tidak. Pemeriksaan antibodi hepatitis C akan tetap positif walaupun seseorang sudah sembuh dari hepatitis C.

Tes genetik virus (HCV RNA)

Jika tes ini menunjukkan hasil positif, artinya tubuh gagal membunuh virus tersebut, dan hepatitis C sudah berkembang menjadi kronis. Tes ini juga dapat menentukan respon pengobatan.

Apabila melalui serangkaian tes tgersebut, pasien terbukti menderita penyakit hepatitis yang sudah tergolong kronis atau sudah berlangsung cukup lama, maka dokter akan mencoba untuk mengetahui tingkat kerusakan hati yang dialami penderita. Untuk mengetahui kerusakan tersebut, dokter akan melakukan sejumlah pemeriksaan tambahan seperti:

  • Tes fungsi hati yang dilakukan melalui darah. Tes ini bergfungsi untuk mengetahui kadar protein atau enzim di dalam aliran darah, yang dapat menunjukkan kerusakan pada hati.
  • Transient elastography (fibroscan), fibroscan dilakukan untuk mengetahui tingkat kerusakan atau mengerasnya jaringan hati.
  • Magnetic resonance elastography (MRE), tes ini juga bertujuan untuk melihat kondisi hati dan mengerasnya jaringan hati.
  • Biopsi hati, tes ini dilakukan melalui bantuan USG. Dokter gastroenterologi akan mengambil sampel jaringan hati, yang selanjutnya akan diperiksa di laboratorium.

Pengobatan Hepatitis C

Hepatitis C tidak selalu harus diobati. Seperti yang telah dikatakan sebelumnya, hampir 50% penderita hepatitis C akan sembuh sendiri akibat sistem kekebalan tubuh yang baik. Begitu juga bila infeksi sudah menjadi kronis, tidak semua hepatitis C akan mengakibatkan komplikasi. Oleh karena itu, dokter gastroenterologi akan menentukan perlu atau tidaknya pengobatan.

Bila dokter menentukan diperlukan pengobatan, target dari pengobatan tersebut adalah sembuh, bukan sekadar menekan pertumbuhan virus. Dengan pengobatan terkini, lebih dari 90% penderita dapat sembuh dari hepatitis C. Pengobatan tersebut meliputi:

1. Obat antivirus
Obat ini umumnya perlu dikonsumsi 12 minggu, tergantung kondisi pasien. Jika diperlukan, dokter bisa memberikan beberapa jenis obat antivirus. Obat antivirus yang dapat mengobati hepatitis C antara lain adalah sofosbuvir, simeprevir, dan ritonavir.

2. Vaksinasi hepatitis A dan hepatitis B
Vaksin hepatitis B dan hepatitis A dilakukan untuk mencegah penderita hepatitis C terkena hepatitis A atau B. Hepatitis A dan hepatitis B dapat menimbulkan kerusakan hati tambahan dan memperparah komplikasi dari hepatitis C kronis.

Selain mendapat pengobatan, pasien hepatitis C akan dianjurkan dokter untuk melakukan perubahan gaya hidup, seperti:

  1. Berolahraga secara teratur
  2. Berhenti merokok
  3. Tidak minum alkohol lagi
  4. Makan makanan dengan gizi seimbang
  5. Tidak berbagi penggunaan barang pribadi, seperti sikat gigi dan alat cukur
  6. Menghindari konsumsi obat tanpa anjuran dokter

Pada pasien yang sudah mengalami komplikasi dari hepatitis C, yaitu sirosis atau kanker hati, dokter dapat menyarankan untuk melakukan cangkok hati. Dokter bedah akan menukar hati pasien yang rusak dengan sebagian organ hati dari donor. Setelah cangkok hati, beberapa pasien perlu meminum obat antivirus agar infeksi tidak menyebar pada organ hati yang baru.

Pencegahan Hepatitis C

Hingga saat ini, belum ada vaksin khusus untuk mencegah hepatitis C. Meski demikian, ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mencegah terjadinya infeksi virus hepatitis C, yaitu:

  • Mencuci tangan secara teratur dengan air dan sabun, terutama setelah beraktivitas di luar ruangan dan sebelum makan.
  • Tidak menggunakan NAPZA, apalagi berbagi jarum suntik dengan pengguna lainnya.
  • Tidak berbagi penggunaan barang pribadi, seperti alat cukur, sikat gigi, dan gunting kuku, karena mudah tercemar dengan darah.
  • Berhati-hati saat ingin ditindik atau ditato. Pilihlah tempat tindik atau tato yang terpercaya, dan pastikan bahwa peralatannya steril.
  • Menggunakan alat pelindung diri saat kontak dengan darah orang lain, terutama bagi petugas medis. Gunakanlah sarung tangan sekali pakai.
  • Menggunakan kondom saat berhubungan seksual, dan tidak berhubungan seks saat sedang menstruasi.
  • Meningkatkan kekebalan tubuh, dengan mengonsumsi makanan bergizi seimbang dan berolahraga secara teratur.
  • Menutup luka terbuka dengan plester, khusus untuk penderita hepatitis C. Hal ini dapat mencegah penularan kepada orang lain.