Diagnosis dan Pengobatan Paru-Paru Obstruktif Kronis

By | 07/08/2019

Diagnosis dan Pengobatan Paru-Paru Obstruktif Kronis

Paru-paru obstruktif kronis memang menjadi salah satu penyakit yang cukup mematikan. Namun dengan penanganan yang cepat, paru-paru obstruktif kronis masih bisa disembuhkan. Sebelum mengambil sebuah tindakan terhadap pasien penderita paru-paru obstruktif kronis, biasanya dokter yang melakukan diagnosa terlebih dahulu. Data riwayat kesehatan pasien menjadi sumber utama, ditambah dengan melakukan sejumlah tes fisik pasien , terutama pada bagian paru-paru.

Tes fungsi paru-paru (spirometri) akan dilakukan dengan menggunakan alat yang disebut spirometer. Fungsi paru-paru akan dinilai melalui volume hembusan napas pasien, yang dikonversikan dalam sebuah grafik. Jika dibutuhkan, dokter akan menganjurkan beberapa pemeriksaan yang lebih detail seperti:

  • Tes darah, untuk memastikan apakah pasien menderita penyakit lain, seperti anemia dan polisitemia, yang memiliki gejala serupa dengan PPOK. Tes darah juga digunakan untuk memeriksa antitripsin alfa-1.
  • Analisis gas darah arteri. Tes ini untuk melihat kandungan oksigen dan karbondioksida dalam darah.
  • Foto Rontgen dada. Foto Rontgen dada dilakukan untuk mendeteksi ganguan pada paru-paru.
  • CT scan, yang dapat menunjukkan gambaran paru-paru secara lebih detail.
  • Elektrokardiogram (EKG) dan ekokardiogram, guna memeriksa kondisi jantung.
  • Pengambilan sampel dahak.

Pengobatan Penyakit Paru Obstruktif Kronis

Hingga saat ini, PPOK termasuk penyakit yang belum bisa disembuhkan. Pengobatannya bertujuan untuk meringankan gejala dan menghambat perkembangan penyakit ini.

Meski demikian, kombinasi pengobatan yang tepat dapat mengendalikan gejala PPOK, sehingga penderita dapat menjalani kegiatan dengan normal. Beberapa langkah pengobatan yang bisa dilakukan meliputi:

  • Penggunakan obat-obatan. Obat yang umumnya diberikan dokter paru untuk mengatasi gejala PPOK adalah inhaler (obat hirup). Contohnya adalah kombinasi bronkodilator yang melebarkan saluran pernapasan, dengan obat hirup kortikosteroid yang mengurangi peradangan pada jalan napas. Jika obat hirup belum bisa mengendalikan gejala PPOK, maka dokter dapat memberikan obat minum berupa kapsul atau tablet. Obat yang biasa diberikan adalah teofilin untuk melegakan napas dan membuka jalan napas, mukolitik untuk mengencerkan dahak atau lendir, kortikosteroid untuk mengurangi peradangan jalan napas jangka pendek saat gejala bertambah parah, serta obat antibiotik jika terjadi tanda-tanda infeksi paru-paru.
  • Fisioterapi dada. Program fisioterapi dada atau dikenal juga dengan rehabilitasi paru-paru merupakan program yang dilakukan untuk memberikan edukasi mengenai PPOK, efeknya terhadap kondisi psikologi, dan pola makan yang sebaiknya dilakukan, serta memberikan latihan fisik dan pernapasan untuk penderita PPOK seperti berjalan dan mengayuh sepeda.
  • Tindakan operasi. Tindakan ini hanya dilakukan pada penderita PPOK yang gejalanya tidak dapat direndakan dengan pemberian obat atau terapi. Contohnya adalah transplantasi paru-paru, yaitu operasi pengangkatan paru-paru yang rusak untuk diganti dengan paru-paru sehat dari donor.

Di samping penanganan medis, ada beberapa upaya yang bisa dilakukan oleh penderita untuk menghambat bertambahnya kerusakan pada paru-paru. Di antaranya adalah:

  • Berhenti merokok atau menghindari pajanan asap rokok. Ini merupakan langkah utama agar PPOK tidak bertambah parah.
  • Menghindari polusi udara, misalnya asap kendaraan bermotor.
  • Memasang alat pelembap udara ruangan (air humidifier).
  • Menjaga pola makan yang sehat.
  • Rutin berolahraga.
  • Menjalani vaksinasi secara rutin, contohnya vaksin flu dan vaksin pneumokokus.
  • Memeriksakan diri secara berkala ke dokter agar kondisi kesehatan bisa tetap terpantau.