Hepatitis B, Infeksi Hati yang Dapat Menular

By | 09/08/2019

Hepatitis B, Infeksi Hati yang Dapat Menular

Jika sebelumnya kita sudah membahas tentang infeksi hepatitis A, kali ini kita akan lebih fokus pada jenis gangguan hati hepatitis B. Infeksi hepatitis B disebabkan oleh virus hepatitis B (HBV) yang berpotensi untuk menyebabkan kondisi akut dan kronis bagi penderitanya. Jika terus dibiarkan, hepatitis B berpotensi untuk menyebabkan sirosis, kanker hati, gagal hati, atau bahkan berujung pada kematian.

Hepatitis B merupakan masalah kesehatan dunia, termasuk di Indonesia. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan lebih dari 680 ribu orang meninggal dunia tiap tahun akibat komplikasi hepatitis B, seperti siroris dan kanker hati.

Di Indonesia sendiri, hasil riset Kesehatan Dasar pada yang dirilis pada 2015 menunjukkan bahwa penderita hepatitis di Indonesia diperkirakan mencapai 28 juta orang, dimana setengah di antaranya berpotensi untuk menjadi kronis, dan 10 persen dari risiko kronis tersebut akan mengalami sirosis atau bahkan kanker hati.

Hepatitis B dapat menular melalui darah dan cairan tubuh, misalnya sperma dan cairan vagina. Beberapa cara penularan umumnya antara lain:

  • Kontak seksual. Misalnya berganti-ganti pasangan dan berhubungan seks tanpa alat pengaman.
  • Berbagi jarum suntik. Misalnya menggunakan alat suntik yang sudah terkontaminasi darah penderita hepatitis B.
  • Kontak dengan jarum suntik secara tidak disengaja. Misalnya petugas kesehatan (paramedis) yang sering berurusan dengan darah manusia.
  • Ibu dan bayi. Ibu yang sedang hamil dapat menularkan penyakit ini pada bayinya saat persalinan.

Gejala Hepatitis B

Gejala infeksi hepatitis B tidak akan langsung muncul setelah penderita mengalami infeksi. Banyak penderita hepatitis B yang baru menyadari dirinya terinfeksi heptitis setelah 1 – 5 bulan berikutnya. Gejala awal yang muncul adalah:

  • Kehilangan nafsu makan
  • Mual dan muntah.
  • Diare.
  • Penurunan berat badan.
  • Gejala yang menyerupai flu seperti lelah, nyeri pada tubuh, sakit kepala, dan demam tinggi (sekitar 38ÂșC atau lebih).
  • Nyeri perut.
  • Lemas dan lelah.
  • Sakit kuning (kulit dan bagian putih mata yang menguning).

Namun ketika virus sudah mendiami tubuh selama lebih dari 6 bulan, gejala yang ditunjukkan akan cenderung lebih ringan. Sebagian besar penderita penyakit ini tidak mengalami gejala yang signifikan. Tetapi penderita harus tetap berhati-hati karena penderita hepatitis B kronis, terutama yang tidak menjalani pengobatan, dapat mengalami komplikasi serius. Misalnya sirosis atau inflamasi hati.

Penyebab Hepatitis B

Hepatitis B disebabkan oleh virus hepatitis B (HBV). Hepatitis B bisa menyebabkan kondisi akut dan kronis pada pasien. Hepatitis B termasuk penyakit yang sangat mudah menular. Penularan hepatitis B dapat melalui kontak dengan darah atau cairan tubuh lain penderita. Risiko Anda akan makin tinggi jika Anda tidak memiliki kekebalan tubuh terhadap penyakit ini.

Faktor Risiko Secara Umum

Banyak orang yang tidak menyadari bahwa dirinya sudah terinfeksi. Berikut adalah beberapa hal yang bisa meningkatkan risiko terkena hepatitis B pada diri Anda:

  • Berbagi sikat gigi, alat cukur, dan handuk yang sudah terkontaminasi dengan darah yang terinfeksi.
  • Menggunakan obat-obatan terlarang dan berbagi jarum suntik.
  • Berhubungan seks dengan pengguna obat-obatan terlarang yang memakai dan berbagi jarum suntik.
  • Memiliki luka terbuka dan terjadi kontak dengan darah yang terinfeksi.
  • Bekerja dan berurusan dengan darah. Paramedis dan staf laboratorium memiliki risiko lebih tinggi terhadap ketidaksengajaan tertusuk jarum suntik bekas.
  • Menjalani transfusi darah di klinik atau rumah sakit yang tidak memeriksa darah untuk hepatitis B. Semua darah yang akan digunakan dalam transfusi harus dites untuk berbagai penyakit, termasuk hepatitis B.
  • Menjalani pengobatan atau perawatan gigi di klinik atau rumah sakit dengan peralatan yang tidak steril.
  • Menindik atau menato tubuh di tempat yang peralatannya tidak steril.

Cairan tubuh merupakan salah satu perantara utama dalam penularan hepatitis B. Anda juga berisiko mengalami penyakit ini jika:

  • Melakukan hubungan seks tanpa kondom (termasuk seks oral dan seks anal), terutama jika pasangan Anda sudah terinfeksi.
  • Memiliki pasangan seksual lebih dari satu orang.
  • Pekerja seks komersial (wanita atau pria) juga berisiko tinggi tertular hepatitis B.

Faktor Risiko Secara Geografis

Faktor geografis juga memiliki peran yang cukup penting dalam penularan hepatitis B. Wilayah dengan jumlah kasus hepatitis B tertinggi di antaranya adalah Asia Tenggara, Asia Timur, Asia Tengah, Afrika sub-Sahara, Eropa Timur, dan Eropa Selatan.

Jika Anda atau pasangan seksual Anda pernah tinggal lama di salah satu wilayah tersebut, Anda berisiko tinggi untuk terkena Hepatitis B. Karena itu sebaiknya Anda berwaspada dan dianjurkan menerima vaksinasi.

Penularan dari Ibu kepada Bayi

Jika ibu hamil terkena hepatitis B, bayinya dapat tertular selama masa kehamilan atau pada saat lahir. Para ibu hamil dianjurkan untuk menjalani tes darah sehingga hepatitis B dapat segera terdeteksi.

Penularan hepatitis B dari ibu kepada bayinya masih dapat dicegah. Caranya adalah dengan memberi vaksin hepatitis B pada sang bayi saat dilahirkan (sebaiknya dalam waktu 12 jam). Pemberian ASI juga boleh dilakukan jika sang bayi sudah menerima vaksin pada saat lahir.

Baca Juga : Langkah Diagnosa & Pengobatan Penderita Hepatitis B