Hepatitis C, Infeksi Hati Jenis Ketiga | Penjelasan, Gejala, dan Penyebabnya

By | 10/08/2019

Hepatitis C, Infeksi Hati Jenis Ketiga | Penjelasan, Gejala, dan Penyebabnya

Hepatitis C adalah salah satu jenis peradangan hati yang disebabkan oleh infeksi virus hepatitis C. Seseorang yang menderita hepatitis C memiliki potensi mengalami penyakit liver kronis atau tumbuhnya kanker hati. yang perlu diwaspadai adalah hepatitis C dapat menular dengan mudah melalui darah ataupun cairan, termasuk ketika berhubungan intim. Selain itu, virus juga bisa menular jika seseorang menggunakan barang-barang milik penderita.

Gejala Hepatitis C

Pada umumnya, hanya segelintir orang yang mengalami gejala saat menderita hepatitis C akut (6 bulan pertama sejak tertular hepatitis C). Berikut ini adalah gejala dari hepatitis C akut yang bisa terjadi:

Setelah terinfeksi hepatitis C, hampir 50% dari penderita akan sembuh dengan sendirinya dalam waktu 6 bulan, namun sisanya dapat berkembang menjadi kronis. Sebagian penderita hepatitis C kronis ini dapat mengalami sirosis atau kanker hati dalam 20 tahun.

Sama dengan fase akut, sebagian besar penderita hepatitis C kronis juga tidak mengalami keluhan, sampai terjadi kerusakan pada hati. Gejala yang bisa timbul akibat hepatitis kronis dan kerusakan hati meliputi:

  • Tubuh terasa lelah sepanjang hari
  • Nyeri sendi dan otot
  • Perut kembung
  • Kulit terasa gatal
  • Nafsu makan menurun
  • Mual dan muntah
  • Mudah memar atau berdarah
  • Gangguan ingatan jangka pendek dan sulit berkonsentrasi
  • Mengalami perubahan suasana hati
  • Penyakit kuning
  • Asites
  • Muntah darah
  • Penurunan kesadaran

Penyebab Hepatitis C

Hepatitis C adalah penyakit liver yang disebabkan oleh infeksi virus hepatitis C. Infeksi ini menyebar saat darah yang terpapar atau terkontaminasi virus hepatitis C masuk ke dalam pembuluh darah orang lain. Di bawah ini adalah beberapa penyebab utama dari penyebaran virus hepatitis C:

  • Menggunakan jarum suntik bekas pakai.
  • Berhubungan seks tanpa kondom dengan penderita hepatitis C.
  • Mendapat transfusi darah dari penderita.
  • Menjalani prosedur medis dengan peralatan yang tidak steril.
  • Berbagi penggunaan sikat gigi, gunting kuku, atau alat cukur dengan penderita.

Walaupun kadar virus hepatitis C paling tinggi terdapat di dalam darah, cairan tubuh lain dari penderita hepatitis C juga mengandung virus. Meski demikian, seseorang tidak dapat tertular hepatitis C dari:

  • ASI, kecuali terdapat robekan pada puting susu.
  • Berpelukan, berciuman, dan berpegangan tangan.
  • Berbagi makanan atau minuman dengan penderita hepatitis C.
  • Percikan liur penderita yang bersin atau batuk.

Selain beberapa faktor penyebab di atas, penularan hepatitis C lebih mudah terjadi apabila seseorang memiliki faktor risiko berikut ini:

  • Memiliki pasangan seksual penderita hepatitis C.
  • Melakukan tato atau tindik dengan peralatan yang tidak steril.
  • Merupakan anak yang terlahir dari ibu yang menderita hepatitis C.
  • Menyalahgunakan NAPZA suntik dan berbagi jarum suntik.
  • Merupakan penderita infeksi HIV.
  • Penderita gagal ginjal yang melakukan cuci darah jangka panjang.
  • Bekerja sebagai petugas medis.

Komplikasi Hepatitis C

Menurut data medis yang dipublikasikan oleh badan kesehatan dunia, WHO, sekitar 10% dari penderita hepatitis C kronis mengalami komplikasi. Komplikasi ini umumnya timbul sekitar 20 tahun setelah terinfeksi hepatitis C. Komplikasi yang dapat terjadi akibat hepatitis C adalah:

  • Muncul jaringan parut di hati (sirosis), Infeksi hepatitis C yang terjadi selama 20-30 tahun membuat timbulnya jaringan parut yang menggantikan jaringan sehat dari hati. Jaringan parut itu akan menyulitkan kerja hati.
  • Kanker hati, infeksi kronis pada hati juga berisiko menyebabkan perubahan pada sel-sel hati menjadi ganas (kanker hati). Perubahan ini dapat terjadi dalam 20 tahun dan bisa berakibat fatal.

Kedua komplikasi di atas membuat hati berhenti berfungsi, yang dinamakan dengan gagal hati. Gagal hati ditandai dengan penyakit kuning, asites, muntah darah, hingga penumpukan racun di otak. Racun yang tidak dapat diolah oleh organ hati dan menumpuk di otak ini dapat menggangu penderita untuk berpikir, hingga akhirnya mengakibatkan penderita mengalami koma.

Baca Juga : Diagnosa, Pengobatan, dan Pencegahan Hepatitis C