HIV & AIDS | Penyakit yang Menyerang Sistem Kekebalan Tubuh

By | 06/08/2019

HIV & AIDS | Penyakit yang Menyerang Sistem Kekebalan Tubuh

HIV (human immunodeficiency virus) adalah virus yang merusak sistem kekebalan tubuh. Sistem kerjanya adalah dengan cara menginfeksi, dan kemudian secara perlahan menghancurkan sel CD4. Semakin banyak sel CD4 yang berhasil dihancurkan, kekebalan tubuh akan semakin lemah, sehingga rentan diserang berbagai penyakit.

Infeksi HIV yang tidak segera ditangani akan berkembang menjadi kondisi serius, disebut dengan AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome). Bisa dikatakan bahwa AIDS adalah stadium akhir dari infeksi virus HIV. Pada tahap ini, kemampuan tubuh untuk melawan infeksi sudah hilang sepenuhnya. Kabar buruknya adalah, hingga saat ini belum ada obat untuk menangani HIV dan AIDS. Akan tetapi, ada obat untuk memperlambat perkembangan penyakit tersebut, dan dapat meningkatkan harapan hidup penderita.

Tipe HIV

Virus HIV terbagi menjadi 2 tipe utama, yaitu HIV-1 dan HIV-2. Masing-masing tipe terbagi lagi menjadi beberapa subtipe. Pada banyak kasus, infeksi HIV disebabkan oleh HIV-1, 90% di antaranya adalah HIV-1 subtipe M. Sedangkan HIV-2 diketahui hanya menyerang sebagian kecil individu, terutama di Afrika Barat.

Infeksi HIV dapat disebabkan oleh lebih dari 1 subtipe virus, terutama bila seseorang tertular lebih dari 1 orang. Kondisi ini disebut dengan superinfeksi. Meski kondisi ini hanya terjadi kurang dari 4% penderita HIV, risiko superinfeksi cukup tinggi pada 3 tahun pertama setelah terinfeksi.

HIV dan AIDS di Indonesia

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan RI, selama tahun 2016 terdapat lebih dari 40 ribu kasus infeksi HIV di Indonesia. Dari jumlah tersebut, HIV paling sering terjadi pada heteroseksual, diikuti lelaki seks lelaki (LSL), dan pengguna NAPZA suntik (penasun). Di tahun yang sama, lebih dari 7000 orang menderita AIDS, dengan jumlah kematian lebih dari 800 orang. Data terakhir Kemenkes RI menunjukkan, pada rentang Januari hingga Maret 2017 saja sudah tercatat lebih dari 10.000 laporan infeksi HIV, dan tidak kurang dari 650 kasus AIDS di Indonesia.

HIV dan AIDS di Dunia

Sedangkan secara global, badan atau organisasi kesehatan dunia WHO telah berhasil melakukan estimasi jumlah kematian yang disebabkan oleh penyakit HIV dan AIDS. Pada tahun 2010, HIV dan AIDS telah berhasil merenggut 1.5 juta jiwa.

Baca Juga : 10 Penyakit yang Menjadi Penyebab Utama Meningkatnya Angka Kematian di Dunia

Gejala HIV dan AIDS

Gejala HIV dibagi dalam beberapa tahap. Tahap pertama adalah tahap infeksi akut, dan terjadi pada beberapa bulan pertama setelah seseorang terinfeksi HIV. Pada tahap ini, sistem kekebalan tubuh orang yang terinfeksi membentuk antibodi untuk melawan virus HIV.

Pada banyak kasus, gejala pada tahap ini muncul 1-2 bulan setelah infeksi terjadi. Penderita umumnya tidak menyadari telah terinfeksi HIV. Hal ini karena gejala yang muncul mirip dengan gejala penyakit flu, serta dapat hilang dan kambuh kembali. Perlu diketahui, pada tahap ini jumlah virus di aliran darah cukup tinggi. Oleh karena itu, penyebaran infeksi lebih mudah terjadi pada tahap ini.

Gejala tahap infeksi akut bisa ringan hingga berat, dan dapat berlangsung hingga beberapa minggu, yang meliputi:

  • Demam hingga menggigil.
  • Muncul ruam di kulit.
  • Muntah.
  • Nyeri pada sendi dan otot.
  • Pembengkakan kelenjar getah bening.
  • Sakit kepala.
  • Sakit perut.
  • Sakit tenggorokan dan sariawan.
  • Setelah beberapa bulan, infeksi HIV memasuki tahap laten. Infeksi tahap laten dapat berlangsung hingga beberapa tahun atau dekade. Pada tahap ini, virus HIV semakin berkembang dan merusak kekebalan tubuh.

Gejala infeksi HIV pada tahap laten bervariasi. Beberapa penderita tidak merasakan gejala apapun selama tahap ini. Akan tetapi, sebagian penderita lainnya mengalami sejumlah gejala, seperti:

  • Berat badan turun.
  • Berkeringat di malam hari.
  • Demam.
  • Diare.
  • Mual dan muntah.
  • Herpes zoster.
  • Pembengkakan kelenjar getah bening.
  • Sakit kepala.
  • Tubuh terasa lemah.

Infeksi tahap laten yang terlambat ditangani, akan membuat virus HIV semakin berkembang. Kondisi ini membuat infeksi HIV memasuki tahap ketiga, yaitu AIDS. Ketika penderita memasuki tahap ini, sistem kekebalan tubuh sudah rusak parah, sehingga membuat penderita lebih mudah terserang infeksi lain.

Gejala AIDS meliputi:

  • Berat badan turun tanpa diketahui sebabnya.
  • Berkeringat di malam hari.
  • Bercak putih di lidah, mulut, kelamin, dan anus.
  • Bintik ungu pada kulit yang tidak bisa hilang.
  • Demam yang berlangsung lebih dari 10 hari.
  • Diare kronis.
  • Gangguan saraf, seperti sulit berkonsentrasi atau hilang ingatan.
  • Infeksi jamur di mulut, tenggorokan, atau vagina.
  • Mudah memar atau berdarah tanpa sebab.
  • Mudah marah dan depresi.
  • Ruam atau bintik di kulit.
  • Sesak napas.
  • Tubuh selalu terasa lemah.

Komplikasi HIV dan AIDS

Infeksi HIV membuat sistem kekebalan tubuh melemah, sehingga tubuh lebih rentan terserang berbagai penyakit, antara lain:

  • Tuberculosis (TB). TB adalah infeksi paru-paru yang sering menyerang penderita HIV, bahkan menjadi penyebab utama kematian pada penderita AIDS.
  • Toksoplasmosis adalah infeksi parasit yang dapat memicu kejang bila menyebar ke otak.
  • Cytomegalovirus. Cytomegalovirus adalah infeksi yang disebabkan oleh salah satu kelompok virus herpes. Infeksi ini dapat menyebabkan kerusakan pada mata, saluran pencernaan, dan paru-paru.
  • Candidiasis. Candidiasis adalah infeksi jamur Candida yang menyebabkan ruam pada sejumlah area tubuh. Infeksi ini disebabkan oleh parasit yang hidup di sistem pencernaan.
  • Meningitis kriptokokus. Meningitis adalah peradangan pada selaput otak dan tulang belakang yang disebabkan oleh jamur.
  • Wasting syndrome. Wasting syndrome merupakan kondisi ketika penderita AIDS kehilangan 10% berat badan. Kondisi ini umumnya disertai diare serta demam kronis.
  • HIV-associated nephropathy (HIVAN). HIVAN adalah peradangan pada saringan di ginjal. Kondisi ini menyebabkan gangguan untuk membuang limbah sisa metabolisme dari tubuh.
  • Gangguan neurologis. Meski AIDS tidak menginfeksi sel saraf, akan tetapi penderita AIDS dapat mengalami sejumlah kondisi seperti depresi, mudah marah, bahkan sulit berjalan. Salah satu gangguan saraf yang paling sering menimpa penderita AIDS adalah demensia.

Selain sejumlah penyakit di atas, ada beberapa jenis kanker yang dapat menyerang penderita HIV, di antaranya adalah sarkoma kaposi dan limfoma. Sarkoma kaposi adalah kanker yang bisa muncul di sepanjang pembuluh darah atau saluran getah bening. Sedangkan limfoma merupakan kanker kelenjar getah bening.

Penyebab HIV dan AIDS

AIDS disebabkan oleh human immunodeficiency virus (HIV). HIV yang masuk ke dalam tubuh akan menghancurkan sel CD4. Sel CD4 adalah bagian dari sel darah putih yang melawan infeksi. Semakin sedikit sel CD4 dalam tubuh, maka semakin lemah pula sistem kekebalan tubuh seseorang.

Penularan HIV terjadi saat darah, sperma, atau cairan vagina dari seseorang yang terinfeksi masuk ke dalam tubuh orang lain. Hal ini dapat terjadi melalui berbagai cara, antara lain:

  • Hubungan seks. Infeksi HIV dapat terjadi melalui hubungan seks baik melalui vagina maupun dubur (anal). Meskipun sangat jarang, HIV juga dapat menular melalui seks oral. Akan tetapi, penularan lewat seks oral hanya akan terjadi bila terdapat luka terbuka di mulut penderita, misalnya seperti gusi berdarah atau sariawan.
  • Berbagi jarum suntik. Berbagi penggunaan jarum suntik dengan penderita HIV, adalah salah satu cara yang dapat membuat seseorang tertular HIV. Misalnya menggunakan jarum suntik bersama saat membuat tato, atau saat menggunakan NAPZA suntik.
  • Transfusi darah. Penularan HIV dapat terjadi saat seseorang menerima donor darah dari penderita HIV.
    Selain melalui berbagai cara di atas, HIV juga bisa menular dari ibu hamil ke janin yang dikandungnya. Virus HIV juga dapat menular pada proses melahirkan, atau melalui air susu ibu saat proses menyusui.

Perlu diketahui, HIV tidak menyebar melalui kontak kulit seperti berjabat tangan atau berpelukan dengan penderita HIV. Penularan juga tidak terjadi melalui ludah, kecuali bila penderita mengalami sariawan, gusi berdarah, atau terdapat luka terbuka di mulut.

Faktor Risiko AIDS

HIV bisa menginfeksi semua orang dari segala usia. Akan tetapi, risiko tertular HIV lebih tinggi pada pria yang tidak disunat, baik pria heteroseksual atau lelaki seks lelaki. Risiko tertular HIV juga lebih tinggi pada individu dengan sejumlah faktor, di antaranya:

  • Hubungan seks tanpa mengenakan kondom. Risiko penularan akan lebih tinggi melalui hubungan seks anal, dan hubungan seks dengan berganti pasangan.
  • Menderita infeksi menular seksual. Sebagian besar infeksi menular seksual menyebabkan luka terbuka di kelamin penderita, sehingga meningkatkan risiko tertular HIV.
  • Berbagi suntikan. Pengguna NAPZA suntik umumnya berbagi jarum suntik dalam menggunakan narkoba.