Hubungan Kurang Tidur Dengan Resiko Obesitas

By | 03/09/2019

Tidur atau istirahat, adalah kegiatan yang selalu diperlukan tubuh untuk menjaga kondisi tubuh. Menurut Center for Disease Control and Prevention Amerika Serikat, orang dewasa membutuhkan sekitar tujuh sampai delapan jam untuk tidur di malam hari.

Banyak hal negatif yang dapat muncul jika anda kekurangan jam tidur, diantaranya adalah mudah marah, sulit fokus, juga jadi lebih ceroboh. Bahkan, ada juga penelitian yang menemukan bahwa kurang tidur mengundang pandangan negatif orang lain akibat wajah yang tampak lelah. Begitu juga dengan munculnya gejala fisik seperti sakit kepala dan jerawat.

Fakta lainnya yang jarang banyak diketahui orang adalah kurang tidur memiliki hubungan yang sangat erat dengan bertambahkan berat badan. Fakta ini didukung oleh para peneliti dari King College di London yang dilakukan melalui 11 studi dan diikuti oleh 172 peserta ini menemukan adalah peningkatan nafsu makan sebagai salah satu gejala dari kurang tidur.

Periset menyatakan, orang yang tidur antara tiga setengah dan lima setengah jam mengonsumsi 385 kalori lebih banyak pada hari berikutnya, dibandingkan orang yang tidur selama tujuh sampai 12 jam.

Ini setara dengan makan dua rangkap burger keju makanan cepat saji. Selain kalori, peserta juga berkemungkinan mengonsumsi makanan tinggi lemak tapi kurang protein, walau asupan karbohidrat tidak berubah.

Dua temuan lain juga mencapai kesimpulan sama. Ulasan di jurnal Obesity menemukan bahwa kurang tidur berhubungan dengan peningkatan berat badan melalui peningkatan nafsu makan dan penurunan aktivitas fisik.

Sementara ulasan 17 studi yang diterbitkan pada tahun 2007 menemukan hubungan yang jelas antara kurang tidur dan meningkatnya risiko obesitas pada anak. Temuan tersebut menyatakan, anak kecil yang kurang tidur berisiko obesitas 58 persen lebih tinggi, dengan risiko lebih besar pada anak laki-laki dibanding perempuan.

Apa penyebabnya? Para peneliti percaya bahwa kurang tidur mengubah pelepasan dua hormon yang membantu tubuh untuk mengatur rasa lapar. Yaitu ghrelin dan leptin. Ketika kurang tidur, leptin (penekan nafsu makan) berkurang, dan ghrelin (perangsang nafsu makan) meningkat sehingga mendorong rasa lapar. Akibatnya, orang yang hanya tidur lima jam semalam mengalami kerusakan hormon lapar, berbanding terbalik dengan yang tidur delapan jam.

Begitu pula dengan pelepasan zat kimia dalam darah yang membuat orang jadi senang mengudap. Studi yang diterbitkan dalam jurnal Sleep mengungkapkan bahwa kurang tidur akan meningkatkan endocannabinoid 2-arachidonoylglycerol (2-AG) yang ada dalam darah. Senyawa kimia inilah yang memperkuat kegembiraan saat makan–efeknya mirip marijuana, terutama ketika menemukan kudapan yang rasanya manis, asin, dan berlemak.

Dampak kedua hal di atas bahkan memengaruhi otak. Pada 2013, sebuah riset menemukan bahwa otak orang yang kurang tidur merespons gambar makanan menggemukkan secara lebih mendesak. Akibatnya, hal itu menimbulkan hasrat ingin makan, padahal mereka dalam keadaan kenyang.

Oleh karena itu, sangat penting untuk mendapatkan waktu tidur yang cukup dan menjaga kualitas tidur agar tubuh lebih sehat. Misalnya saja dengan mulai menentukan waktu tidur rutin tiap hari, memperhatikan konsumsi harian, menghindari hal-hal yang bisa mengganggu tidur, juga menciptakan ritual relaksasi sebelum tidur.