Informasi Lengkap Obesitas Atau Penyakit Kegemukan

By | 08/08/2019

Informasi Lengkap Obesitas Atau Penyakit Kegemukan

Kegemukan alias obesitas adalah suatu kondisi dimana terjadi penumpukan lemak secara berlebihan dalam tubuh seseorang. Tentu saja hal ini akan membuat tubuh penderita semakin besar dan mempengaruhi penampilan fisiknya. Namun jika dibiarkan secara terus-menerus, obesitas dapat mempengaruhi kesehatan bagi penderitanya. Penyakit yang umumnya diderita oleh orang yang memiliki obesitas diantaranya adalah jantung, diabetes, dan tekanan darah tinggi (hipertensi).

Obesitas adalah salah satu masalah kesehatan terbesar di seluruh dunia. Selain dapat menyebabkan masalah kesehatan secara fisik, kondisi ini juga dapat menyebabkan masalah psikologis, seperti stres dan depresi. Orang-orang yang biasanya mengalami obesitas diantaranya adalah anak-anak maupun orang dewasa. Hal tersebut dikarenakan para penderita tidak memperhatikan pola makan dan jarang melakukan olahraga.

Obesitas dan berat badan berlebih (overweight) merupakan dua konsep yang berbeda. Overweight adalah kondisi di mana terdapat kenaikan berat badan berlebih. Namun demikian, kenaikan berat badan tidak hanya disebabkan oleh lemak berlebih, tetapi juga bisa disebabkan massa otot atau cairan dalam tubuh. Kondisi-kondisi tersebut dapat memberikan dampak berbahaya pada kesehatan.

Kegemukan biasanya diderita oleh orang-orang dengan pekerjaan administratif atau kantoran yang cenderung menerapkan gaya hidup sedentari, alias malas gerak. Anda dapat menjaga diri Anda dari kondisi ini dengan mengurangi faktor-faktor risiko yang ada. Jadi, silakan berkonsultasi dengan dokter untuk informasi lebih lanjut.

Tanda-Tanda & Gejala

Seseorang yang mengalami obesitas cenderung memiliki badan yang lebih gemuk dan besar. Sehingga seseorang yang gemuk, belum tentu dapat dikatakan mengalami obesitas. Namun orang yang mengalami obesitas, sudah pasti memiliki badan yang gemuk. Untuk menentukan apakah seseorang termasuk dalam obesitas atau tidak, terdapat beberapa cara menentukannya yakni dengan mengukur:

  • Body Mass Index (BMI)
  • Lingkar pinggang
  • Rasio lingkar pinggang dan panggul (RLPP)
  • Tebal lipatan kulit menggunakan alat ukur yang bernama skinfold
  • Kadar lemak tubuh menggunakan sebuah alat bioelectrical impedance analysis (BIA)

Dari berbagai cara tersebut, mengukur BMI adalah cara yang paling sering digunakan karena cukup mudah untuk dilakukan. Perhitungan BMI ini menggunakan berat badan dan tinggi badan. Rumus dari perhitungan BMI adalah:

BMI = berat badan (kg) / (tinggi (m) x tinggi (m))

Orang-orang dengan BMI lebih besar dari 25 dapat dikategorikan sebagai overweight, pada 30 atau lebih termasuk ke dalam obesitas, dan pada 40 ke atas merupakan tingkat obesitas yang serius. Bagi kebanyakan orang, BMI dapat dimanfaatkan untuk mengukur kandungan lemak dalam tubuh. Akan tetapi, BMI tidak secara langsung mengukur lemak tubuh.

Sebagai contoh, untuk beberapa orang, BMI dari para atlet yang melakukan body building (menambah massa otot) tertentu dapat dikategorikan sebagai obesitas karena otot-otot mereka berkembang secara berlebihan untuk terlihat besar dan kuat, walaupun mereka tidak memiliki lemak berlebih.

Jika kita hanya mengandalkan BMI, kita tidak akan mendapatkan ukuran obesitas yang akurat. Jadi, berkonsultasilah pada dokter untuk mengetahui detail tentang tingkat obesitas Anda.

Kondisi ini dapat meningkatkan risiko terkena penyakit berbahaya, seperti hipertensi, diabetes, dan jantung koroner. Situasi ini juga meningkatkan arthritis yang menyebabkan sesak nafas, sleep apnea, dan cepat lelah.

Penyebab Obesitas

Obesitas dapat terjadi ketika kita sering mengonsumsi makanan dan minuman tinggi kalori, dengan tidak diimbangi dengan aktivitas fisik yang sesuai. Kebutuhan rata-rata kalori bagi wanita dewasa yang aktif secara fisik per hari adalah sekitar 2000, sedangkan bagi pria dewasa yang juga aktif secara fisik adalah 2500 kalori.

Masalah berat badan berlebih atau obesitas timbul saat kita mengonsumsi makanan dengan kadar kalori dan lemak melebihi dari jumlah yang dibutuhkan. Kalori yang tidak berubah menjadi energi dan tidak terpakai tersebut akan disimpan dalam bentuk lemak dalam tubuh. Seiring waktu, penumpukan lemak ini menambah berat badan yang mengarah pada berat badan berlebih hingga obesitas.

Selain pola makan yang tidak sehat serta tubuh yang kurang aktif bergerak, obesitas juga bisa disebabkan oleh faktor-faktor lainnya, seperti:

  • Keturunan atau genetik. Faktor ini dapat berpengaruh pada jumlah lemak yang diserap tubuh atau digunakan sebagai energi. Contoh masalah genetik yang langka adalah sindrom Prader-Willi.
  • Efek samping obat-obatan. Beberapa jenis obat yang dapat menyebabkan kenaikan berat badan adalah antidepresan, antipsikotik, antikonvulsan, kortikosteroid, obat diabetes, dan obat penghambat beta.
  • Kehamilan. Saat hamil, wanita akan membutuhkan banyak asupan nutrisi dari makanan. Namun tidak sedikit pula dari mereka yang mengalami kesulitan untuk menurunkan berat badannya kembali setelah melahirkan.
  • Kurang tidur. Perubahan hormon yang terjadi ketika kita kurang tidur dapat meningkatkan nafsu makan. Hal ini dapat mengarah kepada obesitas.
  • Pertambahan usia. Makin tua usia kita, maka makin besar pula risiko bertambahnya berat badan. Hal ini diakibatkan oleh metabolisme tubuh yang menurun dan massa otot yang berkurang.
  • Penyakit atau masalah medis tertentu. Contohnya adalah sindrom Cushing dan hormon tiroid yang kurang dalam tubuh (hipotiroidisme ).

Komplikasi Obesitas

Sejumlah kondisi medis dapat muncul pada seseorang yang mengalami obesitas. Penderita obesitas dengan lemak tubuh yang banyak membuat beban terhadap tulang, sendi, dan organ internal bertambah berat. Selain itu, risiko peradangan dalam tubuh juga meningkat. Berikut ini sejumlah penyakit yang terkait obesitas, di antaranya:

  • Diabetes tipe 2
  • Sindrom metabolik, berupa tekanan darah tinggi atau hipertensi, serta kadar trigliserida tinggi dan kadar kolesterol HDL yang rendah
  • Stroke
  • Gangguan jantung, seperti aritmia, serangan jantung, dan angina.
  • Sleep apnea
  • Asma
  • Penyakit refluks asam lambung atau gastroesophageal reflux disease (GERD)
  • Gangguan kantong empedu, seperti koleksitis dan batu empedu
  • Gangguan ginjal
  • Gangguan hati
  • Gangguan kandungan, berupa infertilitas atau menstruasi yang tidak menentu
  • Osteoarthritis
  • Komplikasi kehamilan.
  • Beberapa jenis kanker, seperti kanker rahim, usus, hati, pankreas, ginjal, dan prostat.

Baca Juga : Diagnosa Obesitas dan Cara Pengobatannya