Langkah Medis Bagi Penderita Penyakit Kuning

By | 09/08/2019

Langkah Medis Bagi Penderita Penyakit Kuning

Diagnosa terhadap penderita penyakit kuning akan diberikan setelah dokter melakukan pemeriksaan kadar bilirubin yang terdapat dalam darah. Terdapat beberapa sampel yang akan digunakan dalam penelitian, yaitu:

  • Tes darah. Tes darah dilakukan untuk mengukur kadar zat (enzim dan protein) yang dihasilkan oleh organ hati. Melalui tes darah, dokter juga dapat mengetahui adanya infeksi (seperti malaria atau hepatitis C) atau adanya penyakit autoimun.
  • Tes urine. Tes urine atau urinalisis dilakukan untuk mengukur kadar zat bilirubin yang telah diolah (urobilinogen). Tes ini dapat membantu dokter untuk mengetahui penyebab penyakit kuning, apakah pre-hepatic, intra-hepatic atau post-hepatic.
  • Tes pemindaian. Pemindaian dilakukan untuk mengetahui kondisi organ hati dan saluran empedu. Jenis pemindaian yang dilakukan meliputi USG, CT scan, MRI, atau ECRP.
    Biopsi hati. Biopsi hati dilakukan oleh dokter gastroenterologi dengan mengambil sampel jaringan organ hati untuk diperiksa di bawah mikroskop.

Pengobatan Penyakit Kuning

Berdasarkan pada tempat terjadinya gangguan hati, penyakit kuning dibedakan menjadi 3 kategori, yaitu pre-hepatic, intra-hepatic, dan post-hepatic. Dengan jenis yang berbeda tersebut, biasanya dokter juga akan memberikan metode pengobatan yang berbeda.

Pengobatan penyakit kuning pre-hepatic

Tujuan utama pengobatan ini adalah untuk mencegah sel darah merah hancur terlalu banyak atau cepat, sehingga penumpukan bilirubin dapat dihindari. Sebagai contoh, jika penyakit kuning pre-hepatic disebabkan oleh malaria, dokter akan meresepkan obat antimalaria seperti doxycycline atau chloroquine untuk menghentikan infeksi malaria yang mengakibatkan banyaknya penghancuran sel darah merah.

Pengobatan penyakit kuning intra-hepatic

Pengobatan ini bertujuan untuk memperbaiki kerusakan hati, dan mencegah meluasnya kerusakan pada organ tersebut. Sebagai contoh, apabila kerusakan hati disebabkan oleh konsumsi minuman beralkohol yang berlebihan, maka pasien wajib membatasinya.

Sementara, jika kerusakan hati dipicu oleh infeksi, misalnya hepatitis B atau hepatitis C, dokter akan memberikan obat antivirus. Jika kerusakan hati sudah tahap akhir dan tidak dapat diperbaiki (sirosis), dokter akan menyarankan prosedur transplantasi hati.

Pengobatan penyakit kuning post-hepatic

Pengobatan ini bertujuan untuk menghilangkan sumbatan di dalam saluran empedu dan pankreas. Pada penyakit kuning post-hepatic akibat batu saluran empedu, dokter akan mengangkat batu tersebut melalui operasi.

Pengobatan penyakit kuning pada bayi baru lahir

Penyakit kuning pada bayi harusnya membaik dalam 2 atau 3 minggu. Namun pada kasus yang parah, bayi perlu mendapat penanganan berikut di rumah sakit:

  • Fototerapi. Dalam prosedur fototerapi, bayi akan disinari dengan cahaya biru (blue light therapy). Sinar biru ini akan membantu pembuangan bilirubin dari tubuh bayi.
  • Suntik imunoglobulin. Suntik imunoglobulin bertujuan untuk menurunkan kadar antibodi (dan menyebabkan penghancuran sel darah merah) yang meningkat akibat perbedaan golongan darah antara bayi dan ibunya.
  • Transfusi tukar. Transfusi tukar dilakukan jika bayi tidak membaik dengan terapi lainnya. Dalam prosedur ini, darah bayi akan diganti dengan darah dari pendonor.

Pencegahan Penyakit Kuning

Pencegahan penyakit kuning dilakukan dengan mencegah penyebab penyakit kuning. Beberapa langkah pencegahan yang dapat dilakukan antara lain:

  • Melakukan vaksinasi hepatitis A dan B.
  • Minum obat pencegahan penyakit malaria sebelum melakukan perjalanan ke daerah yang rawan penyakit
  • Batasi konsumsi minuman beralkohol, untuk mencegah kerusakan organ hati.
  • Hentikan kebiasaan merokok, untuk mencegah penyakit kanker.
  • Jangan menyalahgunakan NAPZA (terutama berbagi jarum suntik), serta hindari berhubungan seksual tanpa pengaman dan berganti pasangan, agar tidak tertular hepatitis B dan hepatitis C.
  • Mengonsumsi makanan dan minuman yang bersih, agar terhindar dari hepatitis A.
  • Gunakan alat pelindung diri di lingkungan kerja agar tidak terpapar dengan zat kimia yang dapat memicu kerusakan organ hati.
  • Konsultasikan dengan dokter mengenai risiko dan manfaat dari obat-obatan yang digunakan, karena beberapa obat, seperti paracetamol, dapat mengakibatkan gangguan fungsi hati atau memicu timbulnya gejala penyakit defisiensi G6PD.