Paru-Paru Obstruktif Kronis | Ciri-Ciri & Gejala

By | 06/08/2019

Ciri-Ciri Penyakit Paru-Paru Obstruktif Kronis dan Cara Penanganannya

Penyakit paru-paru obstruktif kronis (PPOK) adalah penyakit peradangan paru-paru yang sudah berkembang dalam jangka waktu relatif panjang. Penyakit paru-paru obstruktif yang sudah berkepanjangan ini akan menghasilkan pembengkakan pada saluran pernapasan dan menghasilkan lendir (dahak), sehingga penderita akan mengalami kesulitan untuk mendapatkan aliran udara (sesak nafas). Berdasarkan pengamatan, penyakit paru-paru obstruktif kronis biasanya diderita oleh orang berusia paruh baya serta memiliki kebiasaan merokok yang cukup tinggi. Jika penderita tidak segera mengambil tindak lanjut untuk penyakit ini, penderita dapat berisiko mengalami gangguan jantung maupun kanker paru-paru.

Baca Juga : 10 Penyakit yang Menjadi Penyebab Utama Meningkatnya Angka Kematian di Dunia

Gejala Penyakit Paru Obstruktif Kronis

Pada tahap-tahap awal, PPOK jarang menunjukkan gejala atau tanda khusus. Gejala penyakit ini baru muncul ketika sudah terjadi kerusakan yang signifikan pada paru-paru, umumnya dalam waktu bertahun-tahun. Terdapat sejumlah gejala PPOK yang bisa terjadi dan sebaiknya diwaspadai, yaitu:

  • Batuk berdahak yang tidak kunjung sembuh dengan warna lendir dahak berwarna agak kuning atau hijau.
  • Pernapasan sering tersengal-sengal, terlebih lagi saat melakukan aktivitas fisik.
  • Nafas sesak dan berbunyi.
  • Lemas.
  • Penurunan berat badan.
  • Nyeri dada.
  • Kaki, pergelangan kaki, atau tungkai menjadi bengkak.
  • Bibir atau kuku jari berwarna biru.

Penyebab dan Faktor Risiko Penyakit Paru Obstruktif Kronis

Dari tenggorokan, saluran pernapasan terbagi menjadi 2 cabang yang menuju paru-paru kiri dan kanan. Di dalam paru-paru, saluran pernapasan terbagi lagi menjadi banyak cabang yang berujung pada kantong kecil (alveoli) tempat pertukaran oksigen dan karbon dioksida. Paru-paru mengandalkan kelenturan alami dari saluran udara dan alveoli untuk mendorong udara berisi karbon dioksida keluar dari tubuh. Saat mengalami penyakit paru obstruktif kronis, baik alveoli dan seluruh cabang saluran napas menjadi tidak lentur lagi, sehingga sulit mendorong udara. Selain itu, saluran pernapasan juga menjadi bengkak dan menyempit, serta memproduksi banyak dahak. Akibatnya, karbon dioksida tidak dapat dikeluarkan dengan baik dan pasokan oksigen juga menjadi berkurang.

Beberapa kondisi dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami penyakit paru obstrukstif kronis. Di antaranya adalah:

  • Rokok. Asap rokok pada perokok aktif maupun pasif merupakan faktor utama yang dapat memicu PPOK, serta sejumlah penyakit pernapasan lainnya. Bahan kimia berbahaya dalam rokok dapat merusak lapisan paru-paru dan jalan napas. Diperkirakan, sekitar 20-30 persen perokok aktif menderita PPOK. Menghentikan kebiasaan merokok dapat mencegah kondisi PPOK bertambah parah.
  • Polusi udara, misalnya asap kendaraan bermotor, debu, atau bahan kimia. Polusi udara dapat menggangggu kerja paru-paru dan meningkatkan risiko penyakit paru obstruktif kronis.
  • Usia. PPOK akan berkembang secara perlahan selama bertahun-tahun. Gejala penyakit umumnya muncul di usia 40 tahunan.
  • Penyakit asma. Penderita penyakit asma, terutama yang merokok, rentan mengalami penyakit paru obstruktif kronis.
  • Faktor keturunan. Jika memiliki anggota keluarga yang menderita PPOK, Anda juga memiliki risiko untuk terkena penyakit yang sama. Selain itu, adanya defisensi antitripsin alfa-1 juga dapat meningkatkan risiko terjadinya PPOK. Antitripsin alfa-1 adalah zat yang melindungi paru-paru. Defisiensi antitripsin alfa-1 dapat bermula pada usia di bawah 35 tahun, terutama jika penderita gangguan ini juga merokok.

Baca Juga : Diagnosis dan Pengobatan Paru-Paru Obstruktif Kronis