Vitamin D – Fungsi, Dosis Konsumsi, dan Efek Samping

By | 30/08/2019

Vitamin D adalah salah satu vitamin yang dapat larut dalam lemak. Di dalam tubuh, vitamin D berfungsi untuk membantu penyerapan zat kalsium dan fosfat. Kalsium dan fosfat merupakan mineral yang berperan penting dalam pembentukan dan perlindungan tulang dan gigi.

Vitamin D dibentuk di dalam tubuh dengan bantuan sinar matahari yang diserap melalui kulit. Vitamin ini juga dapat diperoleh dari berbagai bahan makanan, seperti kuning telur, daging merah (misalnya, daging sapi), sarden, salmon, tuna, hati, serta makanan yang diperkaya vitamin D.

Kekurangan atau defisiensi vitamin D dapat menyebabkan rakitis (pelunakan dan melemahnya tulang) pada anak-anak serta osteomalasia (melemahnya tulang) pada orang dewasa. Beberapa contoh orang yang rentan mengalami defisiensi ini meliputi:

  • Ibu hamil atau menyusui.
  • Bayi dan balita.
  • Lansia di atas 65 tahun.
  • Orang yang mengalami obesitas.
  • Orang yang jarang terpajan sinar matahari
  • Orang berkulit gelap.

Untuk mencegah defisiensi tersebut, saat ini sudah tersedia berbagai suplemen vitamin D yang diperjualbelikan secara bebas di apotek. Diantaranya adalah D-Vit, Calcid, Calcium AD, Calc-os, Caldece, Calporosis D 500, Calporosis D 800, Caltrax, Dumocalcin Plus, Osvion Plus.

Dosis Vitamin D

Dosis untuk mengobati defisiensi vitamin D umumnya adalah setidaknya 1.000 IU atau 25 mikrogram tiap hari. Namun jika dibutuhkan, dosis tersebut akan disesuaikan oleh dokter dengan tingkat keparahan defisiensi, kondisi kesehatan, serta umur pasien.

Gunakanlah suplemen vitamin D sesuai keterangan pada kemasan. Jika merasa ragu, tanyakan kepada dokter. Konsumsi suplemen vitamin D bisa bersamaan dengan makanan atau setelah makan.

Apabila mengonsumsi suplemen ini dalam bentuk cair, sebaiknya menggunakan sendok atau gelas takar khusus yang disertakan dalam kemasan. Jangan menggunakan sendok makan biasa karena kemungkinan takarannya berbeda.

Bagi pasien yang lupa mengonsumsi suplemen vitamin D, disarankan untuk segera melakukannya jika jeda dengan jadwal konsumsi berikutnya tidak terlalu dekat. Jika sudah dekat, abaikan dan jangan menggandakan dosis.

Interaksi Obat

Terdapat sejumlah obat yang berpotensi menimbulkan reaksi tidak diinginkan jika dikonsumsi bersamaan dengan vitamin D. Beberapa di antaranya meliputi:

  • Orlistat dan kortikosteroid; menurunkan daya serap tubuh terhadap vitamin D.
  • Phenobarbital dan phenytoin; meningkatkan metabolisme vitamin D pada hati.

Efek Samping Mengonsumsi Vitamin D yang Berlebihan

Jika dikonsumsi dengan takaran yang direkomendasikan, vitamin D sangat jarang menyebabkan efek samping. Sebaliknya, konsumsi suplemen vitamin D yang terlalu banyak berisiko menyebabkan:

  • Mual dan muntah.
  • Mulut kering.
  • Tidak nafsu makan.
  • Sensasi rasa logam dalam mulut.
  • Sakit kepala.
  • Hiperkalsemia (penumpukan kalsium dalam tubuh).
  • Kerusakan ginjal dan jantung.

Peringatan:

  • Bagi Ibu hamil (terutama yang berisiko mengalami hipertensi) dan menyusui, sesuaikan dengan anjuran dokter.
  • Harap berhati-hati dalam mengonsumsi suplemen vitamin D jika menderita sakit kepala, penyakit jantung, gangguan ginjal, hati, paru-paru, perut, muskuloskeletal, kulit, serta tiroid.
  • Demikian pula dengan orang yang memiliki kadar kalsium abnormal.
  • Jika terjadi alergi atau overdosis, segera temui dokter.